Twitter Facebook MySpace YouTube RSS Feed

Contoh Studi Kasus

LAPORAN HASIL STUDI KASUS
SMP MISLAM MAARIF 2 MALANG

PEMBERIAN PACUAN UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN SEMANGAT BELAJAR SISWA
DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Oleh:
RAMADHAN
NPM 080401080172

















PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KANJURUAN MALANG
2011-2012




KATA PENGANTAR

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Puji syukur konselor panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat serta hidayah-Nya sehingga laporan studi kasus ini dapat diselesaikan dengan baik. Laporan studi kasus ini merupakan salah satu runtunan tugas dalam kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) yang telah konselor laksanakan di SMP Islam Ma’arif 02 Malang. Dalam pembuatan laporan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Drs. Barmin, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMP Islam 02 Ma’arif Malang.
2. Hj. Noor Hasanah S,Pd selaku Koordinator Bimbingan dan Konseling SMP Islam 02 Ma’arif Malang.
3. Drs. Choirul Huda, M.Si. selaku ketua LP3L Universitas Kanjuruhan Malang.
4. Heru Cahyono S.Ag. selaku Guru Bimbingan dan Konseling yang telah membantu terselesaikannya studi kasus dengan baik.
5. Para siswa SMP Islam 02 Ma’arif Malang, khususnya kelas VII G yang telah ikut berpartisipasi dalam studi kasus ini.
6. Para Guru dan staf karyawan SMP Islam 02 Ma’arif Malang yang telah memberi dukungan dan bantuannya dalam pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan.
7. Rekan-rekan Praktek Pengalaman Lapangan di SMP Islam 02 Ma’arif Malang dari universitas Kanjuruhan Malang, yang telah kompak dan kerja samanya yang baik.


Malang, 05 Desember 2011
Konselor



Ramadhan
NPM:080401080172

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………….. 2
1.1. LatarBelakang 2
1.2. Pengertian Layanan Bimbingan 5
1.3. Tujuan Layanan Bimbingan Siswa 6
1.4. Pentingnya Layanan Bimbingan 7
1.5. Metode Pengumpulan Data 8
1.6. Teknik Pengumpulan Data 9
1.7. Alasan Pemilihan Kasus 10

BAB II PROSEDUR LAYANAN BIMBINGAN ………………………….. 11
2.1 Identifikasi Kasus 11
2.2 Identifikasi Masalah 12
2.2 Analisis 11
2.3. Sintesis 17
2.4. Diagnosis 18
2.5. Prognosis 19
2.5. Trearment 20
2.7. Evaluasi 21
2.8. Follow up (tindak lanjut) 21
2.9.Bantuan yang belum terlksana 21
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 22
B. Saran 23

DAFTAR PUSTAKA 24
LAMPIRAN ………………………………………………………………......... 25


PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap individu dibentuk dan dibina menurut hak pendidikan yang dimiliki sejak lahir. Dalam hal tersebut berbagai macam usaha pendidikan tentu sudah dilakukan. Pendidikan awal bagi setiap manusia didapatkan dari meniru. Hal ini sering disebut sebagai pemerolehan. Termasuk di dalamnya adalah merespon dengan sederhana, dan berbicara. Berawal dari sini, kepribadian manusia akan terbentuk sesuai dengan pedidikan yang ia peroleh. Maka dengan demikian, sangat dianjurkan hendaknya pedidikan dini harus sesuai dengan norma-norma kehidupan.
Demikian pula sejak manusia mampu bergaul dan bersosialisasi, masih dan tetap diperlukan pendidikan yang baik. Dalam proses ini, yang lebih bertanggung jawab adalah bukan hanya keluarganya saja melainkan masyarakat tempat anak tersebut bersosialisasi. Ketika anak berada dalam lingkungan rumah, maka orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. Ketika anak berada dalam lingkungan masyarakat, maka seluruh masyarakat bertanggung jawab atas pendidikan warganya. Jika anak berada dalam sekolah maka seluruh staff sekolah bertanggung jawab atas anak didiknya. Maka, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab setiap individu, terutama para pendidik untuk melaksanakan tugas miliknya (Suryadi Suryabrata, 2002). Pendidikan adalah hak dan kewajiban bagi setiap individu. Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan kewajiban untuk memberi pendidikan yang layak pada individu lainnya. Lebih lanjut dinyatakan dalam GBHN bahwa pendidikan dilaksanakan seumur hidup (long life education) di dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.
Terkait dengan itu, pendidikan yang lebih bagus dan umumnya ditempuh oleh sebagian besar masyarakat Indonesia adalah sekolah. Sekolah merupakan tempat berlangsungnya proses pendidikan, baik pendidikan jasmani maupun pendidikan rohani, baik soft skill maupun hard skill. Dengan demikian tidak salah lagi pilihan masyarakat Indonesia untuk memupuk pendidikan anaknya di sekolah.
Komponen utama dari sekolah adalah pendidik dan peserta didik, pembelajar dan pebelajar. Dua komponen utama ini sering disebut sebagai Guru dan Siswa. Guru yang baik adalah guru yang bukan hanya mengajar saja melainkan membimbing, mengarahkan, membantu mengembangkan potensi siswa, menjadi fasilitator, motifator, inspirator dan tempat curhat bagi siswa. Sehingga guru tidak hanya menyandang gelar guru ketika dikelas dan jam pelajaran saja di luar kelas dan di luar jam pelajaran. Artinya guru harus siap 24 jam membina siswanya di mana dan kapan saja. Jika sudah demikian, tujuan pendidiakan akan mudah tercapai.
Tujuan pendidikan adalah mengembangkan peserta didik secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat dan nilai-nilai luhur yang dianut masing-masing peserta didik. Keberhasilan tujuan pendidikan tidak lepas dari permasalahan atau hambatan yang ada dalam dunia pendidikan. Salah satu diantaranya adalah menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh siswa yang akhirnya dapat mengganggu kegiatan belajar siswa. Hal semacam ini harus diketahui oleh guru. Guru harus mengetahui setiap masalah yang dihadapi oleh siswanya. Setelah itu guru harus mampu memberikan solusi dari setiap masalah yang dihadapi siswa. Kesiapan guru 24 jam untuk siswanya membantu mempermudah mengenal setiap masalah dan solusi bagi setiap masalah yang dihadapi siswa. Terkait dengan itu, sebagai calon guru, mahasiswa Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) berkewajiban untuk membantu setiap siswa yang mempunyai masalah belajar.
Praktek pengalaman lapangan (PPL) merupakan kegiatan Intra Kurikuler yang dilakukan oleh mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan – dalam hal ini – Universitas Kanjuruhan Malang sebagai wadah untuk melatih mahasiswa agar menjadi guru yang professional. Untuk menjadi guru yang professional harus dilatih sejak dini. Pelatihan tersebut tidak lain kecuali dengan program PPL.
Membaca penjelasan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa Mahasiswa PPL mempunyai tanggung jawab atas kelancaran proses belajar mengajar di sekolah tempat melakukan praktek. Termasuk di dalamnya membantu siswa yang mempunyai masalah belajar.
Seorang guru harus memahami dan mengetahui secara objektif mengenai keadaan siswa, tingkah laku siswa, dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa. Terhadap permasalahan yang dihadapi siswa, guru hendaknya mampu menguasai cara-cara mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi oleh siswa, mendiagnosis, memprognosis, memberikan bantuan serta tindak lanjutnya agar siswa yang mengalami kesulitan dapat memahami dirinya sebagai subyek didik dapat menyelesaikan sendiri kesulitan yang dihadapi. Kegiatan semacam ini disebut Studi Kasus.
Studi Kasus merupakan salah satu upaya untuk mengamati siswa dengan dengan sungguh-sungguh agar setiap siswa terbantu dari setiap masalah yang dihadapinya. Studi kasus dapat dilakukan dengan berbagai macam cara dan metode. Menurut Haniyah (1992:17) studi kasus dapat diartikan sebagai metode untuk menyelidiki dan mempelajari individu secara intensif, integratif, dan komprehensif dengan tujuan membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik.
Studi kasus dapat dimulai dengan pengumpulan data dan menganalisisnya. Data diambil dari anak yang mempunyai masalah dan lingkungan yang mengikatnya seperti keluarga, hubungan social dan hubungan sekolah. Data yang valid dapat diperoleh dengan cara menyebarkan angket, problem check list, wawancara dan observasi secara langsung.

1.2 Pengertian Layanan Bimbingan Siswa
Bimbingan dalam bahasa Inggris adalah guidance. W.S. Winkel (1981) mengemukakan bahwa guidance mempunyai hubungan dengan guiding: “showing a way” (menunjukkan jalan), leading (memimpin), conducting (menuntun), giving instructions (memberikan petunjuk), regulating (mengatur), governing (mengarahkan) dan giving advice (memberikan nasehat).
Miller dalam I. Djumhur dan Moh. Surya (1975) mengartikan bimbingan sebagai proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum di sekolah, keluarga dan masyarakat.
Selanjutnya Djumhur dalam bukunya yang berjudul: Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, pengertian bimbingan mempunyai batasan sebagai berikut:
“Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada siswa atau individu yang dilakukan secara terus menerus supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dengan demikian dia dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat umumnya”.
Sementara menurut Kartono (dalam Djumhur), bimbingan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan oleh seseorang yang telah dipersiapkan pengetahuannya, pemahamannya , keterampilannya dalam membantu orang lain yang diberikan kepada orang lain yang memerlukan pertolongan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan adalah usaha yang dilakukam untuk memberikan bantuan, pengarahan, menunjukkan dan member nasehat secara terus menerus kepada siswa untuk mengembangkan potensi, minat dan bakat siswa serta mengatasi masalah yang dihadapioleh siswa.

1.3 Tujuan Layanan Bimbingan Siswa
Tujuan bimbingan siswa dilaksanakan dengan tujuan, antara lain :
1) Membantu sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan.
2) Mengenal keadaan pribadi siswa yang dianggap bermasalah.
3) Memberikan bimbingan dan motivasi kepada anak didik untuk mencapai tujuan yang baik.
4) Untuk memahami dan menentukan jenis, sifat, faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dan masalah yang lain, serta cara mengatasinya baik secara penyembuhan dan pencegahannya.
5) Meningkatkan prestasi belajar siswa

1.4 Pentingnya Layanan Bimbingan Siswa
Layanan bimbingan siswa di sekolah memiliki makna yang sangat penting. Layanan bimbingan ini diperlukan bagi pengembangan intelektual, sikap dan mental siswa (soft skill dan hard skill). Dengan adanya bimbingan, siswa dapat mengetahui arah dan tujuan pengembangan serta potensi yang ada pada dirinya, sehingga bisa tumbuh dalam kepribadian yang bijaksana dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Hal semacam ini diharapkan dapat membantu berjalannya proses pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.
Di sisi lain, beberapa keuntungan yang dapat ditimbulkan sebagai efek dari layanan bimbingan siswa ini yaitu
1. Bagi Mahasiswa PPL
Dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan di bidang pendidikan dan pengajaran serta mengetahui berbagai problem yang dihadapi konseli dan memberikan alternatif pemecahannya
2. Bagi Guru Bidang Studi
Memberikan masukan dalam perencanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah sehingga pemilihan metode pembelajaran, materi pelajaran, dan media pembelajaran tepat dan dapat diterima oleh siswa sehingga bisa berfungsi dan bermanfaat secara optimal.
3. Bagi Guru Bimbingan Konseling
Membantu mengetahui siswa yang memerlukan bimbingan secara serius agar bisa ditindak dilanjuti. Sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswanya
4. Bagi Kepala Sekolah
Secara teoritik, kepala sekolah dapat memperoleh informasi tentang keadaan atau kondisi siswanya yang mengalami masalah. Secara praktik, kepala sekolah mendapat masukan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan sekolah, perencanaan dan pelaksanaan program di sekolah.
5. Orang Tua
a. Meningkatkan komunikasi antara sekolah dengan orang tua,
b. Memperoleh informasi tentang situasi dan kondisi anaknya di sekolah,
c. Orang tua dapat membantu permasalahan yang dihadapi anaknya.

1.5 Metode Pengumpulan Data
Dengan penyelidikan yang intensif dan komprehensif akan diperoleh informasi tentang Konseli secara lengkap. Kelengkapan dan kedalaman data dapat digunakan untuk merencanakan layanan bimbingan dan konseling yang tepat. Cara pengumpulan data dapat diperoleh dengan cara:
1. Mengadakan pengamatan terhadap siswa pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung,
2. Mengidentifikasi siswa yang dirasa bermasalah,
3. Mengadakan wawancara secara individual dengan Konseli, wali kelas maupun dengan beberapa teman dekat Konseli.

1.6 Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses pemerolehan data, ada beberapa teknik pengumpulan data yang bisa dilakukan, antara lain:
1. Observasi atau pengamatan secara langsung
Metode ini di lakukan dengan cara mengamati keadaan siswa secara langsung yang meliputi sikap dan tingkah laku baik di dalam maupun di luar kelas.
2. Wawancara
Wawancara di lakukan untuk memperoleh informasi yang terperinci terkait masalah yang di alami siswa tersebut.. Wawancara bisa dilakukan dengan wali kelas atau teman dekat konseli.
3. Angket
Pembagian angket di lakukan untuk mendapatkan informasi awal dan untuk menggali informasi lebih lanjut. Anget disini mengenai identitas siswa dan Problem Check List.
4. Daftar Check Masalah (DCM)
Daftar check masalah adalah alat pengumpul data dengan menggunakan daftar masalah. Antara lain mengenai masalah kesehatan siswa, fenomena yang ada dilingkungan sekolah dan sekitar maupun keluarga dan juga masalah yang timbul dari sisi intern konseli sendiri.

1.7 Alasan Pemilihan Kasus
Pemiliahan subjek bimbingan tentu bukan asal-asalan melainkan didasari oleh masalah yaketerkaiatan konselor terhadap siswa yang mempunyai masalah dan perlu mendapat perhatian khusus untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Masalah yang dihadapi oleh konseli adalah sebagai berikut
1. Tidak mau tahu tentang pelajaran yang diajarkan. Konseli menampakkan sikap avuh tak acuh dan rasa tidak peduli terhadap materi pelajaran yang disampaikan
2. Konseli masih belum mempunyai prinsip. Sehingga kesehariannya cendrung mengikuti tingkah laku kawan-kawannya. Adalah suatu kebaikan jika yang diikuti itu adalah kawan yang baik untuk perkembangannya. Namun konseli cendrung bergaul dengan teman-teman menurut konselor tidak cocok dia
Dari hasil wawancara secara langsung ada beberapa gejala yang menyebabkan konseli menghadapi masalah tersebut, antara lain:
1. Konseli masih belum mengerti tentang tujuan pelejaran. Dia belum mengerti minat dan bakat serta potensi yang dimilikinya
2. Konseli masih bersikap kekanak-kanakan. Mungkin karena postur tubuh yang kecil. Dia masih belum bisa memikirkan dampak dari setiap sikap yang dilakukan, dia hidup berjalan seperti air layaknya anak usia SD. Dia merasa bahwa hidap tidak ada beban dan tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan masalah di atas, konselor merasa perlu untuk membantu siswa (konseli) untuk mengenal minat dan bakat serta potensi yang dimilikinya.

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam layanan bimbingan Pemberian Pacuan untuk Meningkatkan Motivasi dan Semangat Belajar Siswa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia ini konselor menggunakan langkah-langkah sebagai berikut yaitu: Identifikasi Kasus, Identifikasi Masalah, Diagnosis, Prognosis, Remedial atau Referral, Evaluasi dan Follow Up.

A. Identifikasi Kasus
Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsudin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga membutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :
1. Call Them Approach: Melakukan wawancara terhadap siswa secara bergiliran dan satu persatu.
2. Maintain Good relationship: Menciptakan hubungan baik dengan suasana penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dan siswa.
3. Developing a desire for counseling: menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya.
4. Doing analysis faced student learning ability: dengan cara ini dpat diketahui tingkat atau jenis kesulitan yang dihadapi siswa.
5. Doing sosiometric analysis: dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial.

B. Identifikasi masalah
I. Berdasarkan Angket
Data yang diperoleh berdasarkan hasil angket siswa maka diperoleh data-data sebagai berikut:
A. Identitas Siswa
Nama Lengkap : Moch. Irfan Maulana
No Induk : 8536
Nama Panggilan : Irfan
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat, tanggal lahir : Malang, 25 November 1998
Alamat : Jalan Janti Selatan, Gang 08 RT 02/RW06
Agama : Islam
Hobi : Sepak bola dan layang-layang
Cita-cita :
Anak ke : 1(satu) dari 1 bersaudara

B. Identitas Orang tua
1. Ayah
Nama Lengkap : Moch Alek
Pendidikan terakhir : Sekolah Dasar
Alamat : Jalan Janti Selatan, Gang 08 RT 02/RW06
Pekerjaan : Kernet
Agama : Islam
2. Ibu
Nama lengkap : C Susiati
Pendidikan terakhir : Sekolah Menengah Atas
Alamat : Jalan Janti Selatan, Gang 08 RT 02/RW06
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam

C. Komposisi Keluarga
Konseli merupakan anak tunggal dari Moch Alek dan C Susiati . Di rumah, dia tinggal bersama bertiga dengan ibu bapaknya. Tidak pernah terjadi masalah keluarga yang membuat dia depresi, stress, terbelakang dan lain sebagainya. Sejauh ini aman-aman saja.

D. Riwayat Pendidikan
Konseli Tamat TK 2 tahun pada tahun 2001, tamat SD 6 tahun pada tahun 2003. Konseli tidak pernah tinggal dikelas sampai sekarang kelas VII SMP (2011)
E. Kebiasaan Belajar
Menurut pengakuan konseli, Konseli menyenangi pelajaran Bahasa Indonesia dan Seni Budaya. Dia mengaku senang membaca dan suka dengan budaya. Tentang pelajaran yang paling tidak disukainya yaitu matematika, alasannya ”ruwet”.
Di rumah, konseli memiliki tempat belajar sendiri yaitu dikamarnya. Tempat tersebut cukup nyaman baginya untuk belajar. Konseli bisasanya belajar di malam hari. Dalam belajar, terkadang dia dapat bantuan dari Mbak kosanya. Mbak kosanya inilah yang biasanya tempat dia bertanya jika mengalami kesulitan belajar.

II. Problem Check List.
A. Kesehatan
Dalam hal kesehatan, konseli mengalami beberapa masalah kesehatan menurut pengakuannya dia sering sakit ketika di SD dan saat SMP. Keluhan-keluhan penyakit yang di alamai oleh konseli adalah selalu kurang nafsu makan, sering sakit perut dan sering sakit gigi.
B. Ekonomi
Konseli merasa ekonominya cukup. Namun menurut pengamatan konselor, bahwa konseli ekonominya pas-pasan dan cendrung kurang. Sebab pekerjaan Bapaknya hanya Kernet dan Ibunya hanya ibu rumah tangga. Melihat penampilannya setiap hari, sering kali pakain dan bukunya lusuh. Anggapan konselor menyatakan bahwa konseli malu menceritakan keadaan ekonomi keluarganya.
C. Kehidupan Sosial dan Keaktifan Berorganisasi
Konseli tidak pernah terlalu berminat pada organisasi, dia mengaku tidak pernah menjadi pemimpin dan tak pernah mengemukakan pendapatnya. Selebihnya dia adalah sosok anak yang suka bergaul dengan temannya, cendrung mengikuti segala sesuatu yang dilakukan oleh temannya.
D. Pergaulan Muda-mudi
Tentang masalah muda-mudi atau asmara, konseli belum terfikir ke sana. Dia masih lebih nyaman dengan keadaan yang sekarang yaitu bergaul dengan teman-teman sebaya, bermain permaianan pria dan belum memikirkan cewek.
E. Agama dan Moral
Dalam hal agama, konseli tidak bisa bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah. Tentang pengetahuan dan kebiasaan beragama lainya tidak ia beberkan.
F. Belajar dan Penyesuaian dengan Sekolah
Dirumah, konseli memiliki kamar sendiri yang dipakai juga sebagai kamar belajarnnya, dia memiliki waktu yang cukup banyak untuk belajar tetapi dia hanya belajar bila ada ulangan saja. Menurut angketnya sih dia biasanya belajar diwaktu malam antara puku 06.00-08.30. Tetapi kalau ditinjau dari Problem Check List yang diisinya sendiri dia belajar jika ada ulangan, tidak mempunyai daftar atau jadwal belajar dan tidak merencanakan bahan yang akan dipelajarinya. Di sisi lain, konseli memiliki keluhan yaitu sukar memahami pelajaran yang bersifat hitungan, dia merasa terlalu banyak buku mata pelajaran yang hatus dipelajari sehingga membuatnya bosen. Sehingga dengan itu dia jarang masuk ke perpustakaan.
Di sekolah, mungkin karena sifatnya yang masih anak-anaknya dia tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam sekolah tidak tahu bagaimana cara belajara yang baik di sekolah. Ke sekolah datang, masuk kelas, mengikuti pelajaran, bermain, jajan dan pulang.

G. Keluarga
Konseli adalah anak tunggal, hubungan keluarga tidak ada masalah. Dia merasa nyaman dengan orang tuanya.

III. Melalui Wawancara
Selain data menurut angket dan problem check list di atas konselor juga mengumpulka data atau keterangan tentang konseli dengan wawancara dan observasi.
Menurut informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan konseli adalah sebagai berikut.
• Ke sekolah konseli biasanya pakai sepede ontel, tapi kadang juga di atar oleh ayahnya
• Di sekolah konseli bergaul dengan siapa saja yang membuatnya nyaman
• Di rumah konseli biasanya bermain sepak bola dan layang-layang
• Konseli bahkan bercita-cita menjadi seorang Pemain sepakbola yang profesional.
• Dalam hal belajar dia mengaku suka membaca dan benci berhitung.
• Konseli tidak mempunyai teman sebaya dilingkungan rumah sebagai teman belajar, untungnya dia punya Mbak kos yang biasa membantunya belajar.
IV. Melalui Observasi
Menurut hasil pengamatan konselor, konselor menyatakan hal sebagai berikut
• Konseli merupakan siswa yang tidak peduli dengan proses pembelajaran di dalam kelas. Dia mengaku suka memebaca karenanya suka pelajaran bahasa Indonesia , tetapi ketika di dalam kelas, konseli tidak menunjukkan sikapnya yang demikian.
• Ketika proses pembelajaran berlangsung, konseli cendrung sibuk sendiri dengan teman-temannya. Dia bergurau bersama teman, jalan-jalan dari satu bangku ke bangku yang lain, dan cendrung mengikuti setiap kesibukan teman yang didekatnya.
• Konseli jarang mengerjakan tugas yang diberikan. Dia mengerjakan tugas setelah temannya selasai. Artinya, dia sering menyontek pekerjaan temannya. Kadang konseli tidak mengumpulkan tugasnya.
• Konseli tidak pernah bertanya atau menyatakn pendapat dalam proses pembelajaran
• Dalam hal berteater, konseli adalah jagonya.
• Konseli adalah tipe siswa yang belum mempunyai prinsip hidup.
• Konseli memperhatikan, dan setelah itu mencoba melaksakan, materi yang disampaikan konselor
• Semua teman (sejenis) adalah teman dekatnya.

C. Sintesa
Sintesa merupakan gambaran secara menyeluruh tentang siswa berdasarkan data yang di peroleh dari hasil berbagai metode, dari data yang telah didapat dan disimpulkan bahwa kondisi klien secara umum sebagai berikut:
1. Kelebihan
Konseli merupakan siswa yang mudah dalam bergaul dan suka bercanda dengan temannnya, suka membantu teman, serta suka pelajaran yang menurut konseli memberi manfat secara riil.
2. Kekurangan
Dalam belajar Konseli bisa dikatakan masih kurang optimal dalam penyerapannya dan pemahamannya. Ini disebabkan oleh kurangnya semangat belajar dari konseli sendiri. Terkadang konseli tidak peduli dengan pelajaran yang sedang berlangsung

D. Diagnosa
Diagnosis adalah tahap menginterpretasikan data yang diperoleh dari menganalisis dan merangkum data. Selanjutnya akan dijadikan dasar dalam pembuatan prediksi terhadap masalah yang dihadapi konseli. Pada tahap ini ada dua langkah yang harus dilakukan yaitu identifikasi masalah dan mencari penyebab timbulnya masalah.
1. Identifikasi masalah
Masalah belajar: Konseli tidak serius memperhatikan atau mengikuti pelajaran, dia terkesan tidak peduli dengan mata pelajaran yang diajarkan, sehingga ketika di kelas dia acuh tak acuh dan lebih senang sibuk dengan urusan sendiri.
2. Menemukan sebab-sebab masalah
Tahap ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang menyebabkan munculnya masalah yang dihadapi Konseli. Beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya masalah Konseli antara lain :
a. Konseli belum mengetahui tujuan belajar bahasa Indonesia.
b. Konseli belum mengetahui secara tepat minat dan bakat yang dimilikinya

E. Prognosa
Prognosis adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari alternatif yang terbaik dalam mengatasi masalah yang dihadapi Konseli. Prognosis ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan yang terjadi apabila Konseli tidak segera mendapatkan bantuan atau bimbingan atau sebaliknya jika Konseli segera memperoleh bantuan atau bimbingan.
Berdasarkan identifikasi masalah yang dihadapi Konseli, maka prognosisnya adalah sebagai berikut:
a. Jika tidak segera dibantu
 Konseli akan kehilangan semangat dan kehilangan arah dalam belajar bahasa Indonesia
 Konseli akan sulit menemukan jati dirinya sebagai manusia normal sehingga berakibat buruk bagi prestasinya.
b. Jika segera dibantu
 Konseli dapat terarah dengan baik tujuan serta manfaat belajar bahasa Indonesia.
 Konseli mengenal minat dan bakat yang dimilikinya sehingga mudah digali yang akhirnya berdampak baik bagi prestasinya

F. Treatment
Usaha pemberian bantuan dibagi menjadi dua yaitu:
1. Usaha bantuan dalam hal kesulitan belajar
• Membimbing konseli untuk belajar bahasa Indonesia disela-sela waktu kosong
• Member padangan yang luas tehadap manfaat belajar bahasa Indonesia
2. Pemberian motivasi
Pemberian motivasi diberikan kepada konseli agar konseli merasa lebih bersemangat dalam belajar. Lebih jauh lagi, motivasi bisa membantu dia mengenal minat dan bakat yang dimilikinya, motivasi tersebut antara lain:
• Memberikan ucapan penguatan “Hebat!” atau “good!” sewaktu konseli bisa atau berusaha menyelesaikan masalah belajarnya.
• Memberikan kata-kata bijak sebagai penyemangat/pengarahan
• Mengajak menonton vedio yang berhubungan motivasi untuk mengembangkan minat dan bakat seorang manusia

G. Evaluasi
Secara umum bantuan yang diberikan konselor memberikan dampak yang cukup baik diantaranya:
- Konseli bersemangat dalam mengikuti pelajaran, tidak lagi acuh-tak acuh di dalam kelas dan lebih aktif dibandingkan dengan sebelumnya serta bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan
- Konseli mengenal minat dan bakat yang dimilikinya
H. Follow Up (Tindak Lanjut)
Usaha selanjutnya adalah memantau perkembangan Konseli. Jika dirasa Konseli belum ada perkembangan, maka perlu dicari langkah atau alternatif lain untuk memecahkan masalahnya. Dilakukan pengulangan diagnosis. Selain itu, konseli tetap diberi dukungan agar kemampuan yang sudah dicapai saat ini tidak lagi menurun, bahkan terus berkembang.

I. Bantuan yang belum terlaksana
Berdasarkan yang telah dikemukakan di atas, maka pemberian bantuan yang belum terlaksana adalah sebagai berikut:
1. Pemberian informasi kepada orang tua wali akan prestasi belajar anak yang kurang, untuk selanjutnya orang tua harus mengupayakan perhatian lebih terhadap anaknya terutama tingkah laku diluar sekolah.
2. Memberikan bantuan kepada mata pelajaran yang tidak disukai.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian mengenai layanan bimbingan siswa yang telah dikaji secara bertahap dapat diperoleh kesimpulan, bahwa timbulnya masalah siswa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1. Pribadi siswa
2. Peranan keluarga dan teman-teman
3. Peranan guru sebagai pengajar di sekolah
Mengingat hal tersebut, dalam mengatasi masalah dan mencegah kemungkinan-kemungkinan selanjutnya yang dapat terjadi pada diri Konseli, serta demi keberhasilan pemberian bantuan ini, maka sangat diperlukan peran serta dari berbagai pihak seperti yang telah disebutkan di atas.
Sedangkan dari uraian laporan studi kasus mulai dari Bab I sampai Bab II ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Studi kasus merupakan suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seseorang secara mendalam dengan tujuan untuk membantu individu untuk mencapai penyesuaian yang baik dan mencapai perkembangan pribadi yang optimal.
2. Permasalahan yang ada dalam studi kasus ini adalah masalah siswa yang berhubungan dengan masalah kurang semangat dalam belajar dan belum tergalinya bakat dan minat siswa.
B. Saran
a. Kepada siswa
Siswa harus mampu memotivasi dirinya sendiri dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar terutama pelajaran Bahasa Indonesia, karena tanpa adanya semangat belajar dalam diri siswa tidak akan bisa memahami pelajaran yang disampaikan oleh bapak/ibu guru.
b. Kepada guru mata pelajaran
Guru harus mampu memberikan perhatian yang merata kepada siswa dikelas, terutama siswa yang menghadapi permasalahan. Guru seharusnya menjadi mitra BP untuk memberikan bantuan pengarahan berkaitan dengan cara belajar yang baik dan efisien dan menekankan pentingnya pendidkan untuk masa depan anak didik.
c. Kepada Guru BK atau Konselor
Guru BK hendaknya memberikan perhatian dan selalu menjalin komunikasi dengan siswa sehingga dapat mengetahui perkembangan siswa yang telah mendapatkan bantuan. Secara umum guru BK diharapkan menjadi penghubung antara siswa, guru, dan orang tua siswa sehingga permasalahan siswa dapat dengan cepat diketahui dan dapat dengan segera diatasi.
d. Kepada orang tua
Orang tua hendaknya terus memberi dorongan kepada anaknya untuk terus berprestasi dan selalu mengontrol anaknya. Selain itu juga orang tua hendaknya menjalin kerja sama dengan pihak sekolah sehingga mengetahui perkembangan anak disekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Djumhur, M. Surya. 1994. Diagnosis dan Pemecahan Kesulitan Belajar. Jakarta: Erlangga
Haniyah. 1993. Masalah Belajar dan Bimbingan. Malang: Perawatan Fasilitas
Partowisastro, H. Koestoer. 1985. Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Erlangga.
Team UPT-PPL. 2003. Petunjuk Pelaksanaan PPL. Malang: UPT-PPL Universitas Kanjuruhan Malang.
Winkel, W.S.. 1978. Bimbingan dan konseling di institut pendidikan. Jakarta: Grasindo






















  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Ipul Amik mengatakan...

contoh laporan studi ksusnya bener bener bermanfaat buat saya. Terima Kasih

Poskan Komentar

Copyright: Blog Trik dan Tips - http://blogtrikdantips.blogspot.com/2012/04/cara-membuat-burung-terbang-twitter.html#ixzz1wvdLqFy3 Tolong sertakan link ini jika mengkopi artikel diatas. Terima kasih