Twitter Facebook MySpace YouTube RSS Feed

Contoh Analisis Kesalahan Berbahasa


ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA


Terhadap Makalah "Interaksi Sosial"
yang Ditulis Oleh Lukman Hakim




Oleh
Ramadhan
080401080172






 












PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG
DESEMBER 2009
BAB I
PENDAHULUAN

1. Batasan-batasan Anakes
            H.V. George menyebutkan bahwa anakes adalah pemakaian bentul-bentuk tuturan yang tidak diinginkan, khususnya suatu bentuk tuttan yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan pengajar bahasa, sedangkan S.Piet Corder menyebutkan anakes sebagai pelanggaran terhadap kode bahasa. Pelanggaran ini bukan hanya bersifat fisik saja melainkan juga tanda kurang sempurna pengetahuan dan penguasaan terhadap bahasa. Dan Albert Vardman berpendapat bahwa anakes adalah menetapkan standar penyimpangan atau kesalahan

2. Latar belakang Anakes
Anakes sebagaimana ilmu lainnya mucul akibat dari suatu masalah yang perlu dikaji. Anakes hadir sebagai pembenaran terhadap kesalahan-kesalahan yang sering terjadi pada bahsa tulis maupaun bahasa lisan. Pada kontek bahasa tulis seperti kesalahan pada penulisan artikel, makalah, skripsi, desertasi, tesis, teks pidato dan lain-lain, pada kontek bahasa lisan seperi berkhotbah, berpidato, memimpin diskisi, menjadi moderator, dan lain-lain. Oleh karena itu diharapkan dengan kehadiran Anakes semua kesalahan itu bisa ditinggalkan.

3. Tujuan
            Tujuan dari Anakes adalah sebagai media pembenaran terhadap kesalahan-kesalahan berbahasa sehingga siswa maupun mahasiswa ketikan menulis maupun berujar tidak memiliki kesalahan. Disamping itu Anakes ditujukan untuk pengembangan bahasa yang benar deengan menbontohkan kesalahan-kesalahan yang imum terjadi. Oleh karenanya jika siswa maupun mahasiswa sudah betul-betul memahami Anakes maka mereka bisa menanalisis kesalahan-kesalahan berbahasa berikut dengan pembetulannya.











BAB II

PEMBAHASAN

2.1.      Pengumpulan Data Kesalahan




























2.2.    Identifikasi Kesalahan

2.2.1.     Bedasarkan sistematik dan tidaknya
a. mistik              : -
                      b. error                : semua data kesalahan tersebut error
2.2.2.     Berdasarkan tingkat kesalahan
a. fonologi          : (1) konci (2) tampa (3) tapsiran (4)Difinisi (4) sarat (5) fihak (6) harfiah (7) telpon(7) tapsiran (8) masyrakat (9)diwujutkan (10) di maksut(11)memitnah (12) mengasilkan
b. morfologi       : apa bila (1) orang-orang perorangan (2) orang perorangan (3) di pisahkan (4) di bagi (5) di terima (6) di landa (7) di pergunakan (8) di artikan (9) di dukung (10) di tandai (11) di pilih (12) di pisahkan (13) di gunakan (14) di maksut (15) atau pun(16) prikelakuan (17) ketidak pastian (18) menghalangi-halangi
c. sintaksis          : baik itu berupa imitasi (1) sugesti(2) identifukasi dan simpati (3) baik itu secara sadar ataupun tidak (4) baik itu berupa gerakan,atau sebuah pembicaraan atau bahkan sikap, opositional peocesses yang seperti halnya (5) Contravention....berada antara persaingan dengan pertentangan (6) seperti umpamanya (7) badaniyah (8) banyak hal-hal
                     d. semantik         : orang-orang perorangan, sarat
                     e. pragmatik       : -

2.2.3        Berdasarkan sumber kesalahan
a. interlingual     : konci (1) tampa (2) tapsiran (3) Difinisi (4) sarat (5) fihak (6) harfiah (7) telpon (8) tapsiran (9) masyrakat (10) diwujutkan (11) di maksut (12) mengasilkan.
b. intralingual     : Pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial,  pergaulan itu akan terjadi apa bila (1)orang-orang perorangan(2) orang perorangan (3)di pisahkan (4) di bagi (5)di terima (6) di landa (7) di pergunakan (8) di artikan (9) di dukung(10) di tandai(11) di sebabkan(12) di pilih(13) di pisahkan(14) di gunakan (15) di maksut (16) baik itu berupa imitasi (17) sugesti (18) identifukasi dan simpati (19) atau pun (20) adalah merupakan (21) baik itu secara sadar ataupun tidak (22) prikelakuan (23) baik itu berupa gerakan,atau sebuah pembicaraan atau bahkan sikap (24) Adapun pendapat gillin dan gillin pernah mengandakan (25) kadang-kadang kala (26) opositional peocesses yang seperti halnya (27) Contravention....berada antara persaingan dengan pertentangan (28) ketidak pastian (29) seperti misalnya (30) seperti umpamanya

2.2.4        Berdasarkan wujud kesalahan
a. penambahan   : Pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial (1)  pergaulan itu akan terjadi (2) apa bila (3) orang-orang perorangan (4) orang perorangan (5)di pisahkan (6) di bagi (7) di terima (8) di landa (9) di pergunakan (10) di artikan (11) di dukung (12) di tandai (13) di sebabkan (14) di pilih (15) di pisahkan (16) di gunakan (17) di maksut (18) atau pun (19) adalah merupakan (20) prikelakuan(21) opositional peocesses yang seperti halnya (22) seperti misalnya (23) menghalangi-halangi (24) ketidak pastian (25) seperti umpamanya (26) badaniyah (27) banyak hal-hal.
b. penghilangan  : harfiah (1) telpon (2) masyrakat
c. penggantian    : konci (1) tampa (2) tapsiran (3) fihak (4) tapsiran (5) Adapun pendapat gillin dan gillin pernah mengandakan (6) diwujutkan (7) di maksut (8) Contravention....berada antara, persaingan dengan pertentangan
d. urutam            : -

2.3.Pembahasan

2.3.1.      konci
Kata konci pada makalah tersebut error, bentuk keerrorannya ialah terletak pada tingkat fonologi yaitu penulis mengganti fonem /u/ menjadi /o/ yaitu dari kata /kunci/ menjadi /konci/, mungkin penulis menuliskan fonem tersebut akibat pengaruh dari bahasa Jawa, yaitu suku Jawa melafalkan /kunci/ dengan lafal /konci/. Kesalahan ini berwujud penggantian fonem yaitu menggantikan fonem /u/ menjadi fonem /o/. begitu juga dengan kata  tampa, Difinisi, fihak, tapsiran, diwujutkan dan dimaksut. hanya saja yang berbeda dari masing-masing kata tersebut yaitu sumber bahasa yang mempengaruhinya sebab penulis ini saya kenal betul dengan dia yaitu dia orang Sulaweai yang beretnik Jawa sekolah di Pondok Pesantren di Lombok, sehingga bahasa yang ia kuasai yaitu mulai dari Bahasa Keli (salah satu suku di Sulawesi Tengah), Bahasa Jawa, Bahasa Sasak (Lombok) dan Bahasa Arab.   
Kata tampa masih sama dengan kata konci di atas yaitu sama-sama terpengaruh dari bahasa Jawa, sebab sebagai petutur bahasa Jawa saya jarang sekali mendengarkan orang Jawa melafalkan /tanpa/ dengan fonem /n/ cendrung dengan fonem /m/ yaitu /tanpa/ menjadi /tampa/. Kata Difinisi pun masih sepadan dengan kata konci tersebut yaitu terpengaruh oleh bahasa Jawa yaitu fonem /e/ diubah dengan fonem /i/, karena memang menurut orang Jawa melafalkan /definisi/ menjadi /difinisi/ yang akhirnya berdampak pada penulisannya. Berbeda dengan kata fihak yaitu mungkin penulis terpengaruh dengan bahasa bahasa Arab, sebab dulu penulis ini bahasa kesehariannya waktu di ponpes yaitu bahasa Arab yang sampai sekarang masih melekat dalam benaknya sehingga berakibat terhadap tulisannya. Dalam bahasa Arab tidak ada fonem /p/ yang ada cuma /f/ yaitu di baca /fa/, oleh sebab itu pihak yang seharusnya ditulis dengan fonem /p/ ditulisnya fihak tengan fonem /f/. Sedangkan kata tapsiran adalah pengaruh bahasa Sasak (Lombok). penulis pun sekarang masih menggunakan bahasa sasak sebagai bahasa kesehariannya sebab meskipun ia sekarang tinggal di Jawa namun karena rata-rata teman bergaulnya orang Lombok ya! jadinya ia menggunakan bahasa Lombok terus.
Dalam sistem bahasa Sasak tidak ada fonem /f/ dan /V/ yang ada cuma fonem /p/. sehingga /tafsiran/ ditulisnya /tapsiran/. begitu juga dengan kata  diwujutkan dan dimaksut, terpengaruh dengan bahasa Sasak. Dalam sistem bahasa Sasak, konsonan /d/ jika di dahului vokal /u/ pada akhir suku kata dasar - sekali lagi pada akhir suku kata dasar - maka konsonan /d/ mengalami penurunan bunyi menjadi /t/. sehingga dengan sebab ini penulis menuliskan yang demikian, seharusnya ditulis dengan dengan fonem /d/ malah diganti dengan fonem /t/. Diwujudkan menjadi diwujutkan dan dimaksut menjadi dimaksut.

2.3.2.     Bertemunya orang antar orang secara badaniah belaka tidak akan mengahasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial,  pergaulan itu akan terjadi apa bila antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia berkerja sama, saling berbicara,....
kaliamat di atas salah. Berdasarkan sitematis atau tidaknya kesalahan tersebut ialah kesalahan yang bersifat error. Error pada tingkat sintaksis yakni penulis menaruh kata-kata yang tidak penting yang bisa menghambat pemaknaan. Orang ketika membaca tulisan itu awalnya mesti akan bingung disebabkan strukrur kalimatnya tidak jelas. berdasarkan struktur kalimatnya yaitu berpola S lagi ada S baru P dan Ket, Ket diperluas dengan S dan P, yang lebih mengherankan saya lagi yaitu kalimatnya belum lengkap terus ada koma. Mana ada dalam sintaksis struktur kalimat kayak begitu? bahwa tidak ada strukutur yang berpola S , S P K. jadi seharusnyalah S yang kedua itu dihilangkan dan tidak menaruh tanda koma sebelum kalimat itu lengkap, sehingga struktur kalimatnya menjadi S P K. Jadi, kalimatnya akan berbunyi Pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial akan terjadi apa bila..... Kalau sudah begini saya yakin siapa pun yang membacanya pasti paham.  Berdasarkan sumber kesalahan kalimat tersebut yaitu bersifat intralingual karena disebabkan oleh penulis sendiri tidak menguasai kaidah bahasa. kemudian bentuk kesalhan yang terjadi yaitu penambahan, bahwasanya penulis menambahkah kata-kata yang tidak perlu yang membuat kalimat itu salah maknanya, kata yang ditambahkan yaitu kata pergaulan itu dan bukan hanya itu yang ditambahkan namun juga tanda baca.


2.3.3.     apa bila
kata apa bila diatas secara sistematis adalah kesalahan yang error. bisa kita kita lihat bagaimana bentuk keerrorannya yaitu penulis memisahkan kata apa dan kata bila dengan spasi, sungguh itu cara penulisan yang tidak tepat. Kata apabila adalah kata majemuk yaitu tersususn dari dua kata yaitu apa dan bila dalam aturan pembentukan kata (morfologi) kata majemuk harus ditulis serangkai, tidak boleh dipisah. Oleh karena apabila adalah kata majemuk, maka penulisannya harus serangkai (menyambung) jadi, seharusnya apabila bukan apa bila. Dengan ini cukup memberikan informasi kepada kita bahwa kata tersebut salah dalam tingkatan morfologi. Sedangkan menurut sumber kesalahannya yaitu intralingual, bahwasanya kurang manguasainya penulis terhadap kaidah pembentukan kata dalam ini  morfologi, dan berdasarkan wujud kesalahanya yaitu penambahan. Penulis menambahkan spasi antara apa dan bila. hal ini sama dengan data berikutnya yaitu atau pun, penjelasannya pun sama, ia adalah kata majemuk yang seharusnya ditulis bersambung.

2.3.4.      orang-orang perorangan
kalimat yang lengkap dari kata di atas yakni Interaksi sosial merupakan hubungan dinamika yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan antara kelompok-kelompok manusia maupun antara orang-orang dengan kelompok-kelompok manusia. Sungguh tak berstruktur sekali. penulis sebetulnya dengan kalimat hubungan antara orang-orang perorangan itu mau menyatakan  makna orang dengan orang, namun ia tidak tahu bagaimana sih penggunaan afiks per-an, sehingga membuat kalimat itu menjadi salah. sebetulnya yang diinginkan penulis yaitu ingin menyatakan hubungan antara orang perorang, namun ia salah kafrah dalam menggunakan gramatika, bahwasanya yang harus digunakan untuk menyatakan makna dengan yang berarti “hubungan”  yaitu partikel per bukan afiks per-an.
            Kesalahan lain dari kalimat tersebut yaitu penulis menggunakan kata bereduplikasi yang bermakna jamak. dengan ini maknanya semakin parah dan rancau lagi. Seperi sudah saya katakan di atas yang diinginkan oleh penulis ialah menyatakan hubungan orang dengan orang lebih spesifik lagi yaitu hubungan satu orang dengan satu orang, namun makna yang diinginkan itu menjadi tidak tercapai oleh karena ia menggunakan reduplikasi tadi, jadi makna yang akan timbul menjadi hubungan antara banyak orang dengan satu orang atau kelompok dengan orang. berarti selain kalimat ini catat menurut morfologi ia pun cacat menurut semantik. Sumber kesalahannya sudah jelas yaitu intralingual dan ia berwujud penambahan, yang ditambah yaitu reduplikasi pada kata orang jadi orang-orang dan penggantian partikel per dengan akhiran –an pada kata perorangan.­­ Hal ini juga sejurus dengan kata-kata berikutnya yaitu orang-perorangan bahwa yang dimaksud orang per orang. 

2.3.5.      dikatakan bahwa hubungan badan tidak menjadi sarat mutlak  
            Kata sarat pada kalimat tersebut jelas salah, salahnya itu bersifat error. Error pada fonologinya sekaligus semantik. Sarat jika ditulis tanpa fonem /y/ seperti yang tampak pada data itu akan mendatangkan makna “penuh, sering atau banyak”, seperti pada kalimat kelas ini sarat dengan perkelahian maknanya kelas ini sering terjadi perkelahian. Dan jika syarat ditulis dengan fonem /y/ mendatangkan makna tuntutan atau permintaan yg harus dipenuhi.    Nah! jika dilihat menurut konteks kalimatnya, bahwa kalimat tersebut sebetulnya ingin menyatakan sesuatu yang harus dipenuhi. jadi, yang betul untuk penulisan sarat pada kalimat di atas yang itu dengan fonem /y/. Berarti kaliamatnya seharusnya berbunyi dikatakan bahwa hubungan badan tidak menjadi syarat mutlak. Jadi, berdasarkan tingkat kebahasaan, kaliamat di atas salah pada tataran fonologi dan sematik. sematik juga “iya” seperti yang sudah saya katakan di atas /syarat/ dengan /sarat/ masing-mabing memiliki makna yang berbeda sehingga nanti bisa mengaburkan makna sebuah kalimat. Sumber kesalahannya yaitu berdasarkan intralingual disebabkan oleh kurang atau tidak pahamnya penulis terhadap kaidah bahasa. kesalhan tersebut berwujud kesalahan penghilangan, yaitu penulis menghilangkan fonem /y/ antara konsonan /s/ dengan vokal /a/.

2.3.6.     di pisahkan di landa, di terima, di bagi, di maksut, di gunakan, di pisahkan, di pilih, di sebabkan, di tandai, di dukung, di artikan di pergunakan.
            semua kesalahan di atas data yang sama 
            Kata-kata di atas memiliki kesalahan yang sama kesalahannya yaitu kesalahan yang sistematis yaitu kesalahan itu bersifat berulang-ulang. berdasarkan tingkat kebahsaan bahwa kesalhan tersebut terletak pada tataran morfologi yaitu penulis tidak bisa membedakan mana prefiks di- dan kata depan di. Penulis cendrung menyamakan prefiks di- dan kata depan di tersebut, sehingga pada kata-kata di atas prefeks di- dipisahkan penulisannya dengan morfem yang diikutinya. penulisan yang benar yaitu prefeks ditulis serangkai dengan kata yang diikutinya dan penulisan kata depan harus dipisah dengan kata yang diikutinya. Sumber kesalahan dari data tersebut yaitu intralingual dan dan berwujud penambahan yaitu yang ditambah spasi antara perefiks di- dengan morfem yang diikutinya. Pembenaran untuk masing-masing kata itu yaitu dipisahkan dilanda, diterima, dibagi, dimaksut, digunakan, dipisahkan, dipilih, disebabkan, ditandai, didukung, diartikan, dipergunakan.


2.3.7.     - baik itu berupa imitasi, sugesti, identifukasi dan simpati
- baik itu secara sadar ataupun tidak.
- baik itu berupa gerakan atau sebuah pembicaraan atau bahkan sikap.
         Tiga kalimat di atas adalah kalimat yang error, error pada tataran sintaksis yaitu penulis tidak tahu bagaimana penggunaan kata hubung (konjungsi) yang benar. bahwasanya konjungsi yang diinginkan pada ketiga kalimat itu adalah konjungsi yang menyatakan makna “gabungan” yaitu yang seharusnya baik.... maupun..... namun penulis salah menggunakan pasangan terhadap konjungsi itu. dalam sintaksis tidak ada kata hubung yang menyakatakn “gabungan” seperti yang penulis makalah tuliskan yaitu baik.... dan....,  baik.... atupun.... dan baik.... atau..... Jadi, seharusnya masing masing kalimat itu kata hubungnya diganti dengan baik.... maupun...., sehingga kalimatnya akan menjadi
- baik itu berupa imitasi, sugesti, identifukasi maupun simpati
- baik itu secara sadar maupun tidak.
- baik itu berupa gerakan maupun sebuah pembicaraan atau bahkan sikap.
kesalahan ini terjadi akibat penulis tidak menguasai kaidah bahasa Indonesia oleh karenanya data ini adalah kesalahan yang bersifat intralingual. wujud kesalahan itu sendiri adalah penggantian yaitu penulis menggantikan konjungsi baik.... maupun.... dengan baik.... dan...., baik.... ataupun...., dan baik.... atau.....

2.3.8.      adalah merupakan
Kalimat lengkapnya ialah identifikasi adalah merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk  mejadi sama seperti fihak lain. kalimat ini salah, menurut sitematisnya ia kalimat yang error. bentuk keerrorannya yaitu terletak pada kata adalah dan merupakan. Adalah dan merupakan adalah kata yang berfungsi untuk menjelaskan sesuatu. Dalam kaidah bahasa dinyatakan bahwa “satu kata penjelas hanya boleh menjelaskan satu kata yang dijelaskan”. Jadi, setiap kata yang dijelaskan memiliki satu kata penjelas. Baiklah kita lihat kata di atas, kata yang dijelaskan yaitu kata identifikasi dan kata penjelasnya yaitu adalah dan merupakan, berarti di sana ada satu kata yang dijelaskan dengan dua kata penjelas. Nah! Demikianlah kesalahannya. Seharusnya identifikasi itu hanya boleh menerima satu kata  penjelasan saja apakah  adalah atau merupakan, pilih satu diantaranya mana yang sekiranya cocok untuk digunakan (sebab pada kalimat tertentu ada batasan-batasan tersendiri bagaimana pengguanaan dua kata penjelas tersbut).              Berarti kesalahan tersebut salah pada tingkatan sintaksis, Sumber kesalahannya sudah jelas yaitu bersumber dari bahasa itu sendiri atau intralingual yaitu kurangnya penguasaan penulis terhadap kaidah bahasa dan adapun wujud kesalahannya yaitu berwujud penambahan. yang ditambahkan yaitu kata penjelas yang tidak perlu. Jadi, kalimat yang benar dari ungkapan tersebut yaitu identifikasi adalah kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk  mejadi sama seperti fihak lain atau identifikasi merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk  mejadi sama seperti fihak lain.
Kasus yang sama terjadi pada kata seperti misalnya pada kata seperti misalnya menyangkal pernyataan orang lain di depan umum dan seperti umpamanya  pada kata seperti umpamanya mengumumkan rahasia fihak lain.... penjelasannya sama dengan penjelasan kesalahan tersebut.

2.3.9.     harfiah dan telpon
             Harfiah dan telpon dua-duanya error menurut fonologi. dalam KBBI yang tercantum harafiah dan telepon dengan vokal /a/ pada kata harafiah dan vokal /e/ pada kata telepon. menghilangkan bunyi tersebut berarti salah, sumber kesalahan data tersebut yaitu intralingul sebab penulis tidak memahami fonologi, sedangkan wujud kesalahannya yaitu penghilangan. yang dihilangkan adalah fonem /a/ pada harafiah dan fonem /e/ pada telepon.     
    
2.3.10.        Adapun pendapat gillin dan gillin pernah mengandakan penggolongan yang lebih luas,
            Kesalahan yang terjadi pada kalimat di atas adalah kesalahan yang sistematif yaitu error. Error pada tataran sintaksis yaitu ketidaksantunan dalam memilih konjungsi serta membuat kalimat yang tidak logis, kalimat yang tidak logis disebabkan oleh bentuk kalimatnya yang tidak terstrukrur dengan benar. Coba kita cerna bagaimana unsur fungsi pada kalimat di atas
Adapun pendapat gillin dan gillin pernah mengandakan penggolongan yang lebih
               P                S1        S2                          P                           O                Ket  luas,

S1 dan S2 itu satu orang, jadi tidak bisa dipisah menjadi dua subjek. kemudian konjung yang dipakai tidak tepat, bahwasanya konjungsi dan menyatakan penambahan, kita lihat kalimatnya, ada tidak unsur yang bersifat penambahan? jelas tidak. Di sisi lain, konjungsi dan bertugas untuk menghubungkan kalimat majemuk setara. kalimat di atas adalah kalimat majemuk bertingkat, berarti konjungsinya salah. kaliamat yang benar untuk memperbaiki kalimat itu adalah Adapun pendapat Gillin yang  pernah mengandakan penggolongan yang lebih luas,. Konjungsi dan diganti dengan konjungsi yang – yang bertugas untuk menjelaskan dan untuk menghubungkan kalimat majemuk bertingkat. Sumber kesalahan ini bersifat intralingual yaitu disebabkan karena penulis tidak mengerti atau menguasai kaidah bahasa khususnya pada tataran sintaksis sedangkan menurut wujud kesalahannya yaitu berwujud penggantian sekaligus penambahan, yang diganti yaitu konjungsi yang dengan konjungsi dan – dan yang tambahkan yaitu subjek kedua.

2.3.11.        prikelakuan
            Bentuk prikelakuan adalah bentuk kesalahan yang sistematis yaitu error, error pada tataran morfologi. Kesalahan yang terjadi pada kata di atas adalah kesalahan pada  pemakaian afiks ke-an. Afiks ke-an merupakan imbuhan yang hadir di awal dan di akhir kata yang diimbuh sebagai konfiks, jadi tidak boleh salah satunya berada di tengah kata yang diimbuah atau sebagai sisipan seperti yang tampak pada kata di atas. Afiks k­e- berada di tengah kata, model begini menunjukkan afiks itu bukan ke-an lagi melainkan sisipan ke- dan akhiran -an, bentuk seperti ini tidak ada dalam morfologi. Menambah ke-an untuk mengimbuh kata perilaku pun tidak tepat, sebab ke-an itu menyatakan benda dan sifat, dalam konteks kalimatnya perilaku berkategori adjektive jadi tidak perlu ditambahkan ke-an lagi. Bentuk yang benar untuk memperbaiki kata di atas yakni mengilangkan afiks ke-an mejadi perilaku.
            Berdasarkan sumber kesalahan yang terjadi pada data di atas adalah bersifat intralingual yaitu penulis tidak mengerti kaidah pembentukan kata dalam hal ini morfologi dan berdasarkan wujud kesalahan – kesalahan tersebut yaitu berwujud penambahan afiks ke-an.

2.3.12.        masyrakat
            Kata masyrakat di atas adalah bentuk kesalahan yang sistematis yaitu error. Dalam tingkat kebahasaan kesalahan tersebut masuk dalam kategori kesalahan pada tingkat fonologi. Kesalahan yang terjadi pada kata itu adalah berupa penghilangan fonem /a/  antara fonem /sy/ dan /r/, jadi sebetuknya kata yang benar yaitu masyarakat. Memang kesalhan itu tidak akan mengabutkan makna tetapi menutut pelafalan fonologinya tetap salah. Jadi kesalahan itu terletak pada fonetiknya nukan pada fonemiknya.
berdasarkan sumber kesalahannya kesalhan itu merdifat interlingual yaitu penulis terpengarus dengan bahasa daerah yang ia kuasai dalam hal ini yaitu bahasa Sasak, bahwasanya dalam bahasa Sasak pelafalan masyarakat dalam masyarakatnya dilafalakan dengan tanpa fomem /a/ jadi mereka  melafalkannya masyraka. Kemudian dillihat dari wujud kesalahannya kesalahan ini yaitu berupa penghilangan yaitu yang dihilangkan adalah fonem /a/ yang terletak antara fonem /sy/ dan /r/ pada kata masyarakat

2.3.13.        kadang-kadang kala
            Bentuk seperti yang tampak pada kata di atas merupakan suatu betuk kesalahan yang sistematis yaitu error. kata kadang-kadang kala ini error pada tataran sintaksis namun pada dasarnya kesalahan itu bermula dari kekeliruannya dalam morfologi yaitu pada pembentukan kata ulang, kat ulang seperti pada kata dfi atas menyatakan keseringan, jadi tidak perlu ditambah dengan kata kala lagi sebab sering itu sudah menyatakan kala sehingga dengan sebab ini terjadi kesalhan pada tataran se;anjutnya yaitu sintasksis, kesalahan yang terjadi pada sintaksis yaitu berupa pemborosan kata. adapun sumber kesalahannya yaitu bersifat intralingual yaitu penulis tidak mengerti tata bahasa yang baik dan benar, dan menurut wujud dari kesalhan itu yaitu berwujud penambahaghan yaitu yang ditambah pereduplikasian.

2.3.14.  opositional peocesses yang seperti halnya
                           Adapun kesalahan yang terjadi pada kalimat di atas adalah kesalahan yang sistematis yaitu error. kemudian berdasarakan tingkat kebahasaan kesalahan di atas terletak pada tingkat sintaksis. penjelasannya seperti ini: kalimat yang lengkap dari kalimat di atas yaitu proses  yang disosiatif sering disebut juga sebagai opositional peocesses yang seperti halnya dengan kerja sama. kata penghubung yang  yang vercetak tebal di atas adalah kata penghubung antar kalimat majemuk bertingkat, namun pada kalimat di atas adalah kalimat majemuk setara hal itu di tandai dengan frasa penjelas yatiu seperti halnya frasa seperti halnya adalah frasa yang menjelaskan sesuatu itu memiliki kedudukan yang sama atau palimh tidak mirip. oleh karenanya kalimat di atas tentu salah, kesalahan itu ialah kesalahan yang jika dilihat dari karekteristik yang – yang bertugas menjadi kata penghubung. Di sisi, yang merupakan kata yang bertugas untuk menjelaskan kalimat yang butuh penjelasan. Pada kaliamat di atas yang itu menjelaskan frasa opositional peocesses kata selanjutnya pun ada kata penjelas yaitu seperi kalimat penjelas seperti juga menjelaskan frasa opositional peocesses, ketentuannya ialah satu kata penjelas hanya boleh meejelaskan satu kata yang dijelaskan begitu sebaliknya kata yang dijelaskan hanya boleh menerima satu kata penjelas saja. jadi, sudah tampak bagaiman kesasalah pada kalimat tersebut.  kemudian berlanjut pada sumber kesalahan yaitu keslahan tersebut bersumber pada bahasa itu sendiri disebabkan oleh penulis yang tidak menguasai gramatikal, jadi kesalalahannya yaitu intralingual selanjutnya berupa wujud kesalahan yaitu berwujud penambahan, yang ditambahkan adalah konjungsi yang atau kata penjelelas yang.

2.3.15.        ketidak pastian
            Kata ketidak pastian error, segingga termasuk pada kesalahan yang sistematis, bentuk keerroranya yaitu penulis memberikan pemisah berupa spasi antara ketidak dan pastian. ketidakpastian merupakan satu kata yang dibentuk dari dua morfem bebas yaitu {tidak} dan {pasti} dan satu  morfem  terikat yaitu {ke-an}, ketentuan dalam pembentukan kata yaitu satu kata tidak boleh terpisah dari semua unsur unsur pembentukannya, jadi tetap ditulis serangkai, seperti kata di atas akan menjadi ketidakpastian (tanpa spasi) ingat! adapun sumber kesalahan pada data diatas yaitu intralingal disebabkan penulis yanmg tidak mengerti gramatikal dan wujud kesalahannya bersifat penambaha yaitu menambahkan sapasi diantara ketidak dan pastian. Jadi, kata yang tepat ditulis tanpa spasi ketidakpastian bukan ketidak pastian, dengan spasi.

2.3.16.        menghalangi-halangi
                     kata menghalangi-halangi di atas error karena itu ia kesalahan yang sistematis. kata menghalangi-halangi di atas salah pada tataran morfologi yaitu kesalahan dalam redulikasi yang berafiks, kenapa salah? jawabannya yaitu redulikasi jika ditambah dengan {meN} maka bentuknya {meN-R-i} contoh saya ambilkan kata yang salah seharusnya {meN-halang-halang-I => menghalang-halangi} jadi tidak boleh berbentuk {meN+R-i+i} karena sesungguhnya dalam morfologi tidak ada bentuk yang demikian yang ada cuma penambahan imbuhan pada awal, akhir, tengan, awal-akhir, sedangkan “awal tengah akhir” tidak ada.
                                 Berdasarkan sumber kesalahan yang terjadi pada data di atas adalah kesalahan yang bersifat intralingual yang disebabkan oleh penulis makalah yang tidak menguasai kaidah pembentukan kata. sedangkan wujud dari kesalahan tersebut yaitu berwujud penggantian yaitu penggantian bentuk afiks meN-i.

2.3.17.        memitnah
               kesalahan pada kata di atas adalah kesalahan yang sistematis yaitu error, bentuk keerrorannyanya terletak pada tingkatan morfologi yaitu kata yang benar memfitnah bukan memitnah. Penjelasan akan kesalahan tersebut sebagai berikut: memfitnah dibentuk dari morfem bebas {fitnah} dan morfem terikat {meN}, kaidahnya jika {meN} berubah menjadi {mem} apabila diikuti bentuk dasar yang berawalan /p/, /b/, /f/. Fonem /p/ luluh kecuali pada bebarapa kata dasar yang berasal dari kata asing dan pada bentuk yang berprefiks. jadi jika menasal diikuti oleh {fitnah} maka {meN} berubah menjadi {mem} + {fitnah} menjadi {memfitnah} bukan {memitnah}.
               Berdasarkan sumber kesalahan pada data ini adalah intralingual yaitu penulis tidak menguasai kaidah pembentukan kata, sedangkan wujud dari kesalahana ini yaitu berwujud penghilangan yaitu penulis menghilangkan fonem /f/ pada memfitnah. 

2.3.18.        badaniyah
data di atas sama dengan semua data sebelumnya yaitu kesalahab yang sistematos berupa error. kata badiah seharusnya ditulis dengan tanpa /y/ sebab penulisan dalam kata serapan harus mengikuti pelafalan atau ejaan Indonesia kalau tidak demikian kata serapan tersebut harus ditulis miring, jadi tingkat kesalhan pada data tersebut yaitu pada sintaksis sedangkan sumber kesalahan data tersebut yaitu intralingual bahwa penulis tidak mengetahuai bagaimana cara penulisan kata serapan. kemudian berdasarkan wujud kesahannya yaitu berwujud penambahan. adapun yang ditambahkan yaitu fonem /y/ di antara fomen /i/ dan /a/.

2.3.19.        banyak hal-hal
Data ini pun sama dengan data pada sebelumnya yaitu error jika dilihat dari sistematis atau tidaknya. data diatas salah sebab terjadi pemborosan kata, mengapa demikian? baiklah kita lihat! reduplikasi hal-hal  sudah menyatakan makna banyak jadi tidak perlu atau bahkan tidak boleh kita beri penjelasan dengan mengatakan banyak di depannya lagi, berarti kesahalan tersebut terletak pada tingkat sintaksis. dan sumber dari kealahan pada dat itu berisfat intarlingual karena penulis tidak memahami kaidah bahasa, selanjutnya wujud kesalhan tersebut yaitu penambahan, yang ditambahkan adalah kata banyak di depan reduplikasi hal-ha­l.   











2.3.    klarifikasi Kesalahan
= kunci
= tanpa
= tafsiran
= Pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial
 akan terjadi
= apabila
= orang perorang
= orang perorang
= Definisi
= syarat
= di pisahkan
= dibagi
= diterima
= dilanda
= dipergunakan
= diartikan
= didukung
= ditandai
= disebabkan
= dipilih
= dipisahkan
= digunakan
= dimaksut
= baik itu berupa imitasi, sugesti, identifukasi maupun simpati
= ataupun
= pihak
= - adalah atau – merupakan
= baik itu secara sadar maupun tidak
=harafiah
= telepon
= tafsiran
= prilaku
= baik itu berupa gerakan,maupun sebuah pembicaraan atau bahkan sikap
= Adapun pendapat Gillin yang pernah mengandakan....
=masyarakat
= diwujudkan
= di maksud
= menghasilkan


 
- konci                                                                     
- tampa                                                                    
- tapsiran                                                                 
- Pergaulan hidup dalam suatu
 kelompok sosial,  pergaulan itu
akan terjadi    
- apa bila
- orang-orang perorangan= orang perorang
- orang perorangan= orang perorang
- Difinisi
- sarat
- di pisahkan
- di bagi
- di terima
- di landa
- di pergunakan
- di artikan
- di dukung
- di tandai
- di sebabkan
- di pilih
- di pisahkan
- di gunakan
- di maksut
- baik itu berupa imitasi, sugesti,
 identifukasi dan simpati.
- atau pun
- fihak
- adalah merupakan
- baik itu secara sadar ataupun
 tidak
- harfiah
- telpon
- tapsiran
- prikelakuan
- baik itu berupa gerakan,atau
sebuah pembicaraan atau
bahkan sikap
- Adapun pendapat gillin dan
gillin pernah mengandakan....
- masyrakat
- diwujutkan
- di maksut
- mengasilkan




= opositional peocesses seperti halnya
= kadang kala
=  Contravention.....berada antara persaingan dan pertentangan
= ketidakpastian
= menghalang-halangi
= seperti atau misalnya
=memfitnah
= seperti atau umpamanya
= badaniah
=banyak hal

 
- opositional peocesses
yang seperti halnya
- kadang-kadang kala
- Contravention....berada
antara persaingan dengan pertentangan
- ketidak pastian
- menghalangi-halangi
- seperti misalnya
- memitnah
- seperti umpamanya
- badaniyah
- banyak hal-hal



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

         semua kesalahan berbahasa yang ada di maklah yang ditulis oleh Lukman Hakim itu adalah bersifat error semua, sebab tidak akan mungkin muncul mistik dalam bahasa tulisan, sedangkan menurut tingkat kebahasaan atau menurut tarartan kebahasaan kesalahan yang banya terjadi terletak pada tataran morfologi dan sintaksis. kemudian menurtu sumber kesalahannya dominan bersifat interlingual, selanjutnya berdasarkan wujud kesalahan berbahasa, kesalahan data tersebut kebanyakan bersifat penambahan.

Saran

saran kepada penulis supaya memperdalam pengausaannya terhadap kaidah bahasa Indonesia
dan kepada pembaca supaya jangan meniru kesalahan yang diperbuat oleh penulis akan tetapi hendaknya belajar dari kesalahannya sehingga kita bisa membenarkannya dan kita tidak melakukan kesalahan berbahsa.

Lampiran
 
Penulis Lukman Hakim *


INTERAKSI SOSIAL 

KATA PENGATAR



Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan kita kekuatan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Kami ucapkan terimakasih kepada ibu Halimatus Sadiah selaku dosen sosiologi yang telah membimbing kami, dan kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

BAB I
PENDAHULUAN

Interaksi sosoial adalah konci dari semua kehidupan sosial, karena tampa interaksi sosial, tidak mungkin ada kehidupan bersama. Bertemunya orang antar orang secara badaniah belaka tidak akan mengahasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial,  pergaulan itu akan terjadi apa bila antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia berkerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa interaksi merupakan proses dasar dalam hidup bersosial.

BAB II

INTERAKSI SOSIAL
A.      Difinisi
Interaksi sosial merupakan hubungan dinamika yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan antara kelompok-kelompok manusia maupun antara orang-orang dengan kelompok-kelompok manusia. (semantik) Oleh sebab itu interaksi sosial merupakan sarat utama untuk terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan keadaan yang tidak dapat di pisahkan dari kehidupan karena tampa adanya interaksi maka tidak mungkin akan terjadi sebuah aktivitas dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan interaksi sosial itu sendiri itu terjadi karena adanya pengaruh dari berbagi faktor baik itu berupa imitasi, sugesti, identifukasi dan simpati. Faktor-faktor itu sendiri dapat bergerak secara terpisah ataupun dalam keadaan bergabung, adapun jika kita tinjau lebih dalam misalnyasaja faktor imitasi mempunyai peranan penting dalam masyarakat misalnya dengan adanya imitasi-imitasi maka dapat mendorong seseorang mematuhi kaidah atau pun nilai-nilai yang berlaku akan tetapi interaksi juga dapat menimbukan hal-hal yang negatif misalnya dengan imitasi orang dapat melemahkan dan bahkan dapat mematikan daya kreasi seseorang.
Sedangkan faktor sugesti berlangsung apabila memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian di terima fihak lain. Jadi proses ini hampir sama dengan imitasi akan tetapi titik tolaknyalah yang membedakanya. Berlangsungnya sugesti dapat terjadi karena fihak lain menerima di landa oleh emosinya, hal mana dapat menghambat secara rasional.
Adapun identifikasi adalah merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk  mejadi sama seperti fihak lain, identifikasi sifatnya lebih mendalam dari pada imitasi, oleh karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini. Proses identifikasi ini dapat berlangsung dengan sendirinya baik itu secara sadar ataupun tidak oleh sebab itu biasanya seseorang sering kali mencari tipe-tipe ideal tertentu dalam proses kehidupannya.



*  Lukman Hakim : Mahasiswa FKIP Pend. Ekonomi   Unversitas Kanjuruhan Malang
 
 
B.       Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial
a)        Adanya kontak sosial
Kata kotak berasal dari bahasa latin yaitu dari kata con dan cum yang berati sama-sama dan tango yang berati menyentuh sehingga secara harfiah dapat kita artikan bahwa kotak adalah “bersama-sama menyentuh”. Secara fisik kontak akan terjadi apa bila terjadi hubungan badaniah, sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti hubungan secara badaniah, oleh karena orang dapat mengadakan hubungan dengan fihak lain tampa menyentuhnya, misalnya dengan cara berbicara dengan fihak lain, dengan perkembangan teknologi dewasa ini, orang-orang dapat berhubungan dengan memakai telpon, internet, radio dan lain-lain dan bahkan dapat dikatakan bahwa hubungan badan tidak menjadi sarat mutlak untuk terjadinya kontak sosial. Sedangkan kontak sosial itu sendiri dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu:
1)       Antara orang-perorang.
2)       Antara orang dengan kelompok
3)       Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainya.
Sedangkan kontak itu sendiri dapat di bagi menjadi dua hal yaitu kontak primer dan kontak sekunder sedangkan yang di maksut dengan kontak primer itu sendiri adalah apa bila terjadinya kontak itu secara langsung bertemu dan bertatap muka. Sedangkan yang di maksut dengan kontak sekunder adalah sebaliknya yaitu kontak yang melalui perantara.
b)       Adanya komunikasi
Komunikasi merupaka hal yang mutlak yang tak dapat di pisahkan dengan interaksi karena komunikasi merupakan alat yang di gunakan untuk berinteraksi, sedangkan arti yang terpenting dari sebuah komunikasi itu sendiri adalah bahwa seseorang memberi tapsiran pada prikelakuan orang lain baik itu berupa gerakan,atau sebuah pembicaraan atau bahkan sikap. Sedangkan orang yang dilawan bicara akan memberikan reaksi atau tanggapan terhadap orang yang memberikan pesan. 
C. Bentuk-bentuk interaksi sosial
Adapun bentuk-bentuk dari pada interaksi sosial itu sendiri dapat di bagi menjadi tiga yaitu:
a.   kerja sama
b.   Persaingan
c.   Pertikaian atau konflik
Adapun pendapat gillin dan gillin pernah mengandakan penggolongan yang lebih luas, menurut mereka ada dua macam proses sosial yang timbul akibat adanya interaksi sosial yaitu:
a)  Proses asosiatif yang terbagi ke dalam tiga bentuk yaitu:
Ø Akomodasi
Akomodasi dapat di pergunakan dalam dua arti yaitu untuk menunjuk dari suatu keadaaan dan dapat menunjuk pada suatu proses. Sedangakan akomodasi yang menunjuk dalam suatu keadaan berarti suatu kenyataan adanya suatau keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan, dan kelompok-kelopok manusia, sehubungan dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat.
Sedangakan menurut gillin akomodasi adalah suatau pengertian yang dipergunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi yang di pergunakan oleh ahli-ahli biologi untuk menujuk suatu proses di mana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dengan alam sekitarnya. Sedangkan bentuk-bentuk akomodasi dapat di bagi menjadi delapan  yaitu:
1) Coercion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksakan oleh karena paksaaan.
2) Compromise adalah suatu bentuk akomodasi dimana fihak-fihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutanya, agar tercapai suatu penyesuaian terhadap perselisihan yang ada.
3) Arbitration merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila fihak-fihak yang berhadapan,masing-masing tidak sanggup mencapainya sendiri. Maka pertentangan diselesaikan melalui fihak ketiga yang di pilih oleh kedua belah fihak.
4)       Mediation hampir menyerupai arbitration, pada mediation diundangkan fihak ketiga yang netral dalam soal perselisiahan yang ada. Fihak ketiga tersebut mempunyai tugas menyelesaikan perselisiahan  secara damai, sedangkan kedudukan fihak ketiga adalah sebagai penasehat belaka.
5)       Conciliation adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan fihak yang berselisih, bagi tercapainya suatu persetujuan bersama.
6) Toleration, yang  juga sering dinamakan tolerant-paericipantion. Ini merupakan suatu bentuk akomodasi tampa persetujuan yang formal bentuknya.
7) Stalemate, merupakan suatu akomodasi di mana fihak-fihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. Hal ini di sebabkan oleh kedua belah fihak sudah tidak ada kemungkinan untuk maju atapun mundur.
8) Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.        
Ø Asimilasi
Asimilasi merupakan suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang di tandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorang   atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha mempertinggi kesatuan tindak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatiakan kepentingan-kepentingan dan tujuan bersama. Sedangkan proses akan asimilasi akan timbul  apabila:
a.   Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaan.
b.   Orang perorangan sebagai warga kelompok-kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama.
c.   Kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri.
Sedangkan faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah:
1)       Toleransi
Toleransi terhadap kolompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sendiri, hanya mungkin tercapai dalam suatu akomodasi, maka faktor tersebut dapat mempercepat asimilasi.
2)       Kesempatan-kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang.
Adanya kesempatan-kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang Dari berbagai golongan masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda dapat mempercepat proses terjadinya asimilasi, dikarenakan masing-masing individu mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh kedudukan tertentu atas dasar jasa-jasanya ataupun yang dimilikinya.   
3)       Suatu sikap mengahargai orang asing dan kebudayaannya.
Sikap saling menghargai terhadap kebudayaan yang di dukung oleh masyrakat yang lain, dimana masing-masing mengakui kelemahan-kelemahanya, kelebihan-kelebihanya akan mendekatkan masyarakat-masyrakat menjadi pendukung kebudayaan-kebudayaan tersebut.  
4)       Sikap yang terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat.
Sikap yang terbuka dari golongan yang berkuasa di dalam masyarakat juga mempercepat proses asimilasi. Hal ini misalnya dapat diwujutkan dalam dalam kesempatan untuk menjalani pendidikan yang sama bagi golongan-golongan minoritas, pemeliharaan kesehatan, penggunaan tempat-tempat rekreasi dan lain-lain. 
5)       Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
Pengetahuan  akan unsur-unsur yang sama yang terdapat dalam kebudayaan-kebudayaan yang berlainan, menyebabkan bahwa masyrakat-masyrakat pendukungnya merasa lebih dekat satu dengan yang lainya.    
6)       Perkawinan campuran (amalgamasi)
Amalgamasi merupakan hal yang paling menguntungkan bagi terjadinya proses asimilasi. Hal ini terjadi apa bila ada warga dari golongan tertentu menikah dengan warga yang lain. Dengan demikian proses asimilasi dapat menjadi lebih mudah walapun kadang-kadang kala memakan  waktu yang agak lama.
7)       Adanya musuh bersama dari luar. 
Musuh bersama dari luar, biasanya cenderung memperkuat kesatuan masyarakat atau golongan masyarakat yang mengalami ancama musuh tertentu. Dalam keadaan demikian maka golongan masyarakat minoritas dan golongan mayoritas dapat menjadi kompromi dan berusaha melawan musuh secara bersama-sama. 
Ø Akulturasi
Akulturasi merupakan pencampuran dua budaya atau lebih, misal percampuran kebudayaan Cina dengan kebudayaan Jakarta, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa akulturasi adalah percampuran dua budaya ataupun lebih sehingga budaya yang lama berbaur menjadi satu kebudayaan.  
b) Proses disosiatif yang mencakup:
proses  yang disosiatif sering disebut juga sebagai opositional peocesses yang seperti halnya dengan kerja sama, selain itu juaga oposisi dapat juga di artikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia, untuk mencapai suatu tujuan yang tertentu.
Ø  Persaingan
 Persaiangan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, dimana orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian dari publik dengan menggunkan cara usaha-usaha yang menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada.persaingan itu sendiri mempunyai dua tipe yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan persaingan yang tidak bersifat pribadi, persainagan pribadi dimana orang perorangan sacara langsung bersaing untuk mendapatkan kedudukan misalnya. Sedangakan persaingan yang tidak bersifat pribadi,adalah persaingan yang secara langsung dilakukan antar kelompok maupun antara orang-perorangan akan tetapi mereka masuk dalam anggota kelompok. Adapun tipe-tipe diatas mengasilkan beberapa bentuk persaingan antara lain:
a)        Persaingan dalam bidang ekonomi.
b)       Persaingan dalam kebudayaan.
c)        Persaingan untuk mencapai kedudukan dalam peranan tertentu.
d)       Persaingan karena perbedaan ras. 
Ø  Persaingan yang meliputi contravection dan (atau) pertentangan atau pertikaian
Contravention pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dengan pertentangan atau pertikaian. Contraversi terjadi ditandai dengan gejala-gejala oleh ketidak pastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana atau suatu perasaan tidak suka yang tersembunyi kebencian atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang.
Sedangkan menurut leopold von wiese dan howard becker tentang contraversion mencakup lima hal yaitu:
a)        Proses yang umum dari contraversion meliputi perbuatan-perbuatan seperti penolakan,keengganan, perlawanan, perbuatan menghalangi-halangi protes, gangguan-gangguan perbuatan kekerasan dan perbuatan mengacaukan rencana fihak lain.
b)       Bentuk-bentuk dari contravertion yang sederhana seperti misalnya menyangkal pernyataan orang lain di depan umum, memaki-maki orang lain, melalui surat-surat selembaran, mencerca, memitnah, melemparkan beban pembuktian kepada fihak lain dan seterusnya.
c)  Bentuk-bentuk contravention yang intensif yang mencakup penghasutan, menyebarkan desas-desus, mengecewakan fihak-fihak lain dan seterusnya.
d)       Contravention yang bersifat rahasia, seperti umpamanya mengumumkan rahasia fihak lain, perbuatan khianat dan seterusnya.
e)        Contravention yang bersifat taktis, misalnya mengejutkan lawan, menggangu atau membingungkan fihak lain, umpamannya dalam dalam kampanye pemilihan umum.
Tipe-tipe contravention
a)  Contravention antar masyarakat.
b) Antar agama
c)  Contravention intelektual.
d) Oposisis moral.
Pertentangan atau pertikaian.
Pribadi-pribadi maupun kelompok-kelopok manusia yang menyadari adanya perbedaan-perbedaaan misalnya dalam ciri-ciri badaniyah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perikelakuan dan seterusnya. Fihak lain, dapat mengakibatkan dipertajamnya perbedaan yang tadi, sehingga terjadi suatu pertentangan dan pertikaian. Perasaan memegang peranan yang penting dalam pempertajam perbedaan-perbedaan terebut sedemikian rupa, sehingga masing-masing fihak berusaha untuk saling menghacurkan. Sehingga kita dapat mendifinisikan bahwa yang dimaksut dengan pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses sosial dimana orang-perorang atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi keingnanya dengaan cara menentang fihak lawan yang disertai dengan ancaman dan / atau kekerasan.
Adapun sebab-sebab terjadinya dari suatu pertentangan yaitu:
a.  Perbedaan antar orang-perorangan.
b.  Perbedaan kebudayaan.
c.  Bentroknya antara keinginan fihak yang satu dengan fihak yang lain.
d.  Perubahan-perubahan sosial.
Walaupun pertentangan merupakan suatu proses disosiatif yang agak tajam, akan tetapi juga memiliki dampak yang positif bagi kehidupan misalnya(kan) saja dengan adanya konflik maka banyak hal-hal yang sebelumnya belum ada akan tetapi ada karena adanya conflict.

BAB III
PENUTUP
Interaksi sosial merupakan hal yang paling penting dalam proses hidup bersosial walaupun dalam proses tersebut sering terjadi kesenjangan sosial ataupun konflik akan tetapi semua itu merupakan proses sosial yang bertujuan agar orang  ataupun kelompok dapat berinteraksi dengan baik walaupun kadang kala sering terjadi hal-hal yang bersifat kekerasan. Penulis  mengakui dalam makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan sehingga penulis juga berharap saran dan kritik yang bersifat membangun, sangat kami harapkan. Walaupun menjadi hal yang sempurna adalah hal yang mustahil bagi kami akan tetapi berusaha untuk menjadi yang sempurna itulah keinginan kami.  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright: Blog Trik dan Tips - http://blogtrikdantips.blogspot.com/2012/04/cara-membuat-burung-terbang-twitter.html#ixzz1wvdLqFy3 Tolong sertakan link ini jika mengkopi artikel diatas. Terima kasih